PROSPEK TEKNOEKONOMI CBM

PROSPEK TEKNOEKONOMI

Coal Bed Methan (CBM)

Di Indonesia

Disusun

Oleh :

Teuku Lukman Nur Hakim, Galih Angga Pribadi, Mochtarom

Tugas Mata kuliah Teknologi Batubara Bersih

Apakah CBM Itu?

BATUBARA merupakan salah satu sumber energi tak terbarukan yang banyak terdapat di dunia, termasuk Indonesia. Batubara memiliki lapisan-lapisan berisi gas alam dengan kandungan utamanya metana atau methane (CH4) yang disebut CBM. CBM merupakan gas methane yang terjebak pada tambang batubara. CBM tidak berbau, tidak berwarna dan sangat mudah terbakar.

CBM terbentuk bersama air, nitrogen dan karbondioksida ketika material tumbuhan tertimbun dan berubah menjadi batubara karena panas dan proses kimia selama waktu geologi yang sering disebut dengan coalification.

Jumlah kandungan CBM dalam lapisan batubara sangat tergantung pada kedalaman dan kualitas batubaranya. Semakin dalam lapisan batubara terbenam dari permukaan tanah, sebagai hasil dari tekanan formasi batuan di atasnya, semakin tinggi nilai energi dari batubara tersebut, dan semakin banyak pula kandungan CBM. Secara umum, lapisan batubara bisa menyimpan gas metana sebesar 6 – 7 kali lebih banyak daripada jenis batuan lain dari reservoir gas.

Gas CBM yang dilepaskan ke udara, dari penambangan batubara, merupakan gas penyerap radiasi infra merah yang kuat dan merupakan gas penyebab efek rumah kaca (Green House Gas). Gas CBM ini ikut berperan dalam menambah kekuatan radiasi infra merah, yang saat ini telah bertambah sekitar 15 persen pada atmosfer bumi.

Dengan berat yang sama, gas metana, sebagai komponen utama CBM, yaitu sekitar 95 persen, merupakan molekul yang memberikan radiasi 70 kali lebih besar dibandingkan karbondioksida, tetapi efek yang ditimbulkannya relatif lebih pendek yaitu sekitar 8-12 tahun di atmosfir (sekitar 5 persen dari efek radiasi dari karbondioksida). Dengan kata lain, pengurangan emisi gas metana akan mempunyai manfaat dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Potensi CBM di Indonesia

Potensi Coalbed Methane (CBM) di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan, cukup melimpah. Namun, potensi tersebut belum banyak dimanfaatkan. CBM merupakan energi pilihan guna memenuhi kebutuhan energi masa depan Indonesia. Cadangan CBM begitu melimpah dan belum banyak dimanfaatkan. Tinggal bagaimana mengelola bahan tersebut menjadi energi masa depan.

Potensi CBM di Indonesia memiliki keunggulan teknis untuk dikembangkan, terutama berada di tempat yang dangkal (500 m-1500m dibawah permukaan). Dengan biaya pengeboran murah, karena tidak membutuhkan eksplorasi maupun infrastruktur khusus tetapi bisa menggunakan data dan infrastruktur migas yang sudah ada, sebagai keuntungan awal sebelum penambangan batubara serta lokasinya yang ada di daratan serta memiliki pasar yang bagus.

Indonesia memiliki potensi sumber daya Coal Bed Methane (CBM) sekitar 300 hingga 450 Triliun Cubic Feet (TCF). Cadangan CBM sebesar itu tersebar pada sebelas areal cekungan (basin) batubara di berbagai lokasi di Indonesia, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Program diversifikasi energi antara lain dengan mengembangan dan memanfaatkan CBM serta biofuel.

Ke sebelas basin lokasi CBM itu adalah Sumatera Selatan (183 TCF), Barito (101,6 TCF), Kutei (89,4 TCF) dan Sumatera Tengah (52,5 TCF) untuk kategori high prospective. Basin Tarakan Utara (17,5 TCF), Berau (8,4 TCF), Ombilin (0,5 TCF), Pasir/Asam-Asam (3,0 TCF) dan Jatibarang (0,8) memiliki kategori modarate. Sedang basin Sulawesi (2,0 TCF) dan Bengkulu (3,6 TCF) berkategori low prospective.

Cadangan CBM, berdasarkan Data Bank Dunia, diperkirakan mencapai 453 TSCF dengan konsentrasi potensi terbesar terletak pada dua pulau yaitu Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimanan antara lain di Kalimantan Timur (Berau 8,4 TSCF , Pasir/Asem 3 TSCF, Tarakan 17,5 TSCF, dan Kutai 80,4 TSCF), Kalimantan Tengah Kabupaten Barito 101,6 TSCF, dan Sumatera Tengah 52,5 TSCF, Sumatera Selatan 183 TSCF; dan Bengkulu 3,6 TSCF, sisanya terletak di Jatibarang (Jawa Barat) 0,8 TSCF dan Sulawesi 2 TSCF.

Sedangkan berdasar data Departemen ESDM, potensi cadangan CBM yang berada di Indonesia mencapai 453,3 trillion cubic feet (TCF) yang berada di Sumatera Selatan dengan cadangan sebesar 183 TCF, Barito dengan cadangan 101,6 TCF, Kutai sebesar 80,4 TCF, Sumatera bagian tengah sebesar 52,5 TCF, Tarakan Utara sebesar 17,5 TCF, Berau sebesar 8,4 TCF, Ombilin sebesar 0,5 TCF, Pasir/Asem sebesar 3,0 TCF, Jatibarang sebesar 0,8 TCF, Sulawesi bagian barat daya sebesar 2 TCF, Bengkulu sebesar 3,6 TCF.


Prospek Ekonomi

Pada saat ini Indonesia belum pernah memproduksi CBM, sehingga belum bisa dipastikan berapa biaya produksinya. Sementara itu, CBM telah banyak dikembangkan, umumnya digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Beberapa negara telah memanfaatkan CBM seperti Amerika, Rusia, China dan Australia.

Dibandingkan gas alam, CBM memiliki periode produksi lebih lambat. Umumnya produksi terbesar atau puncak produksi terjadi pada periode tahun produksi ke 2 hingga ke 7. Sedang lama periode produksi pada kisaran 10 hingga 20 tahun. Lebih pendek dibandingkan dengan gas alam yang bisa mencapai 30 hingga 40 tahun.

Pengembangan energi alternatif ini membutuhkan insentif, seperti pola bagi hasil yang atraktif. Tujuannya, agar banyak investor yang berminat mengembangkan salah satu energi alternatif pengganti gas bumi ini. Ini adalah proyek baru dan diharapkan kontrak term-nya sangat atraktif sehingga dapat mencapai keekonomian pengembangan CBM.

Bentuk insentif yang diinginkan adalah bagi hasil yang lebih baik dari bagi hasil minyak dan gas. Paling tidak, bagi hasil CBM sama dengan bagi hasil minyak di daerah pedalaman atau frontier. Di daerah pedalaman, bagi hasilnya selama ini 65 persen untuk pemerintah, sedangkan 45 persen bagian kontraktor. Padahal bagi hasil biasanya, 85 persen bagian pemerintah, sedangkan kontraktor hanya 15 persen.

Permintaan bagi hasil tinggi kepada investor dikarenakan kegiatan ekplorasi CBM memiliki resiko tinggi. Apalagi pada tahun awal produksi yang dihasilkan hanya air, yang secara bertahap baru menghasilkan CBM. Juga sumur yang dibutuhkan untuk memproduksi CBM lebih banyak.

Perhitungannya, biaya eksplorasi satu sumur CBM sekitar US$ 400 ribu, lebih rendah dari minyak atau gas yang rata-rata US$ 1 juta. Namun karena jumlah sumurnya lebih banyak, sehingga total investasinya tetap tinggi.

Soal insentif, memang salah satunya bisa melalui bagi hasil. Yang lainnya bisa berupa kredit investasi CBM seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Di sana, semula dunia usaha enggan memproduksi CBM. Namun, setelah pemerintah memberikan kredit pengembang CBM, dunia usaha jadi berminat. Saat ini pemanfaatan CBM mencapai 12 persen dari total energi Amerika Serikat.

Hal lainnya, sebaiknya pemerintah membuat regulasi yang mengatur soal CBM. Sejak April sedang dirancang peraturan mengenai aturan kontrak dan fiskal pemanfaatan CBM. Kalau 2010 CBM sudah dimanfaatkan, dari sekarang sudah dimulai. Sebab memproduki CBM harus dilakukan proses dewatering selama 3-4 tahun pertama.

Status industri CBM saat ini sudah ada 3 kontrak yang ditandatangani, sedangkan 53 perusahaan tengah dalam proses menuju penandatanganan kontrak. Tiga kontrak yang sudah ditandatangani adalah Blok Sekayu, Blok Bentian Besar, dan Blok Indragiri Hulu. Sedangkan dua blok CBM yang akan ditandatangani 13 November nanti adalah Blok Barito I dan Blok Barito II.

Selain itu masih ada tiga blok yang juga akan ditandatangani, yakni Blok Ogan, Blok Kutai, dan Blok Sangatta. Total komitmen investasi delapan blok CBM tersebut mencapai 37,35 juta dolar AS.

Sementara itu status blok CBM yang masih dalam status on going sebanyak 8 perusahaan yang kini tengah dalam proses joint evaluation dan satu perusahaan lain tengah melakukan melakukan joint study, sedangkan surat aplikasi yang diterima oleh pemerintah berasal dari 39 perusahaan. Besarnya minat investasi menunjukkan bisnis CBM memang prospektif.

Usaha CBM diatur UU No. 21 Tahun 2001 Tentang Migas, Permen No. 40 tahun 2006 Tentang Penetapan dan Penawaran wilayah Kerja Migas (Permen ini disempurnakan Permen No. 35 Tahun 2008), dan Permen No. 33 Tahun 2006 Tentan Pengusahaan Gas Metana Batubara (disempurnakan dengan Permen No. 36 Tahun 2008).


Prospek Teknologi

Besarnya perkiraan cadangan CBM telah mendorong beberapa pihak terkait untuk mengembangkannya sebagai bahan bakar alternatif, melalui pemboran sumur pertama, yang dilakukan pada tahun 2005, pada kedalaman 600 meter di Lapangan Rambutan, Pendopo, Sumatera Selatan.

Pengeboran itu merupakan kelanjutan kerjasama Balitbang ESDM yang diwakili oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas (Lemigas) dengan Medco Eksplorasi dan Produksi Indonesia (MEPI). Berikutnya, tahun 2006 dilakukan pemboran 3 sumur dan pada tahun 2007 direncanakan pemboran sebanyak 5 sumur untuk mengetahui cadangan pasti CBM di Lapangan Rambutan.

Keseriusan pemerintah dalam pengembangan CBM ini terlihat dari usahanya mendorong PGN untuk bekerjasama dengan Sojitz Corporation dalam pengembangan CBM di areal pertambangan batubara Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Dengan kerjasama komersialisasi antara PGN dengan Sojitz, diharapkan PGN dapat memenuhi kebutuhan gas domestik dengan CBM di Sumatera Selatan yang dialirkan melalui pipa South Sumatra-West Java (SSWJ).

Penyediaan listrik yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan cara diversifikasi energi. Provinsi Kalsel sebagai salah satu lumbung energi nasional memiliki peran penting dalam usaha diversifikasi energy. Diversifikasi energi menitik-beratkan pada usaha mencari alternatif sumber daya energi selain minyak dan gas.

Saat ini, pasokan listrik di wilayah Kalsel dan Kalteng berasal dari batubara (dengan dua unit PLTU), tenaga air (3 unit PLTA), dan minyak bumi dan gas (29 unit PLTD/gas). Dari berbagai unit pembangkit ini, masih terjadi defisit listrik terutama saat beban puncak antara 20 hingga 70 Mega Watt. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah mengambil kebijakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di mulut tambang dengan pertimbangan ketersediaan sumber daya batubara yang cukup melimpah di wilayah Kalimantan. Namun demikian, karena batubara bukanlah termasuk dalam kategori clean energy maka pembangunan CBM di masa mendatang menjadi sangat strategis dalam penyediaan energi karena CBM termasuk clean energy dan potensinya cukup besar.

Penggunaan CBM untuk pembangkit listrik atau coalbed methane-fueled power plant akan menghasilkan ‘clean electrity’ atau ‘green electric city’ (energi listrik yang bersih dan ramah lingkungan).

Dikatakan, pemanfaatan CBM memang terutama sebagai pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Namun, negara-negara tertentu seperti Cina, telah melangkah lebih jauh dalam pemanfaatan CBM. Misalnya, sebagai pengganti bahan bakar minyak bagi kendaraan bermotor.

Di Jincheng, Cina, penggunaan CBM untuk kendaraan bermotor menunjukkan lebih irit 50 persen dibanding bensin. Selain itu, CBM lebih ramah lingkungan karena menghasilkan sedikit emisi karbondioksida, tidak menghasilkan timbal, tidak mengandung oksida sulfur dan 40 persen lebih rendah kandungan oksida nitrogen.

Peningkatan kebutuhan energi di masa mendatang, seperti minyak bumi, gas, dan batubara, akan terus terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi baik di tingkat regional, nasional, dan dunia.

Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan minyak bumi sebagai sumber energi utama dalam memenuhi kebutuhan energi nasionalnya karena dua hal. Pertama, beban impor minyak bumi akan terus memberatkan APBN karena Indonesia telah menjadi negara net-importer minyak bumi. Kedua, rasio cadangan produksi minyak bumi saat ini menunjukkan cadangannya hanya cukup untuk 18 tahun.

Menyadari kenyataan tersebut, kebijakan pembangunan energi nasional diarahkan untuk diversifikasi energi dengan beralih dari minyak bumi ke gas bumi dan batubara yang memiliki rasio cadangan produksi masing-masing hingga 60 dan 240 tahun.

Kesimpulan

Jika menilik besarnya sumber daya batubara Indonesia, sesungguhnya sangat logis jika batubara dijadikan sebagai sumber energi utama nasional di masa mendatang. Namun demikian dengan semakin ketatnya regulasi yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan utamanya terkait dengan isu pemanasan global, maka batubara di masa mendatang menjadi kurang kompetitif dari aspek lingkungan dibanding energi lain yang termasuk kategori clean energy, seperti gas bumi.

Dengan demikian, karena cadangan gas minyak bumi tidak bisa digunakan untuk jangka panjang, maka perlu dicari alternatif energi lain yang termasuk kategori clean energy namun potensinya cukup melimpah. Jawabannya adalah Coal bed Methane atau CBM.

Daftar Pustaka

-Dari berbagai sumber

2 Responses to PROSPEK TEKNOEKONOMI CBM

  1. The GAP says:

    Bagus juga ya kalo dishare di wordpress kayak gini. (^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: