PROSPEK TEKNOEKONOMI CBM

April 24, 2009

PROSPEK TEKNOEKONOMI

Coal Bed Methan (CBM)

Di Indonesia

Disusun

Oleh :

Teuku Lukman Nur Hakim, Galih Angga Pribadi, Mochtarom

Tugas Mata kuliah Teknologi Batubara Bersih

Apakah CBM Itu?

BATUBARA merupakan salah satu sumber energi tak terbarukan yang banyak terdapat di dunia, termasuk Indonesia. Batubara memiliki lapisan-lapisan berisi gas alam dengan kandungan utamanya metana atau methane (CH4) yang disebut CBM. CBM merupakan gas methane yang terjebak pada tambang batubara. CBM tidak berbau, tidak berwarna dan sangat mudah terbakar.

CBM terbentuk bersama air, nitrogen dan karbondioksida ketika material tumbuhan tertimbun dan berubah menjadi batubara karena panas dan proses kimia selama waktu geologi yang sering disebut dengan coalification.

Jumlah kandungan CBM dalam lapisan batubara sangat tergantung pada kedalaman dan kualitas batubaranya. Semakin dalam lapisan batubara terbenam dari permukaan tanah, sebagai hasil dari tekanan formasi batuan di atasnya, semakin tinggi nilai energi dari batubara tersebut, dan semakin banyak pula kandungan CBM. Secara umum, lapisan batubara bisa menyimpan gas metana sebesar 6 – 7 kali lebih banyak daripada jenis batuan lain dari reservoir gas.

Gas CBM yang dilepaskan ke udara, dari penambangan batubara, merupakan gas penyerap radiasi infra merah yang kuat dan merupakan gas penyebab efek rumah kaca (Green House Gas). Gas CBM ini ikut berperan dalam menambah kekuatan radiasi infra merah, yang saat ini telah bertambah sekitar 15 persen pada atmosfer bumi.

Dengan berat yang sama, gas metana, sebagai komponen utama CBM, yaitu sekitar 95 persen, merupakan molekul yang memberikan radiasi 70 kali lebih besar dibandingkan karbondioksida, tetapi efek yang ditimbulkannya relatif lebih pendek yaitu sekitar 8-12 tahun di atmosfir (sekitar 5 persen dari efek radiasi dari karbondioksida). Dengan kata lain, pengurangan emisi gas metana akan mempunyai manfaat dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Potensi CBM di Indonesia

Potensi Coalbed Methane (CBM) di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan, cukup melimpah. Namun, potensi tersebut belum banyak dimanfaatkan. CBM merupakan energi pilihan guna memenuhi kebutuhan energi masa depan Indonesia. Cadangan CBM begitu melimpah dan belum banyak dimanfaatkan. Tinggal bagaimana mengelola bahan tersebut menjadi energi masa depan.

Potensi CBM di Indonesia memiliki keunggulan teknis untuk dikembangkan, terutama berada di tempat yang dangkal (500 m-1500m dibawah permukaan). Dengan biaya pengeboran murah, karena tidak membutuhkan eksplorasi maupun infrastruktur khusus tetapi bisa menggunakan data dan infrastruktur migas yang sudah ada, sebagai keuntungan awal sebelum penambangan batubara serta lokasinya yang ada di daratan serta memiliki pasar yang bagus.

Indonesia memiliki potensi sumber daya Coal Bed Methane (CBM) sekitar 300 hingga 450 Triliun Cubic Feet (TCF). Cadangan CBM sebesar itu tersebar pada sebelas areal cekungan (basin) batubara di berbagai lokasi di Indonesia, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Program diversifikasi energi antara lain dengan mengembangan dan memanfaatkan CBM serta biofuel.

Ke sebelas basin lokasi CBM itu adalah Sumatera Selatan (183 TCF), Barito (101,6 TCF), Kutei (89,4 TCF) dan Sumatera Tengah (52,5 TCF) untuk kategori high prospective. Basin Tarakan Utara (17,5 TCF), Berau (8,4 TCF), Ombilin (0,5 TCF), Pasir/Asam-Asam (3,0 TCF) dan Jatibarang (0,8) memiliki kategori modarate. Sedang basin Sulawesi (2,0 TCF) dan Bengkulu (3,6 TCF) berkategori low prospective.

Cadangan CBM, berdasarkan Data Bank Dunia, diperkirakan mencapai 453 TSCF dengan konsentrasi potensi terbesar terletak pada dua pulau yaitu Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimanan antara lain di Kalimantan Timur (Berau 8,4 TSCF , Pasir/Asem 3 TSCF, Tarakan 17,5 TSCF, dan Kutai 80,4 TSCF), Kalimantan Tengah Kabupaten Barito 101,6 TSCF, dan Sumatera Tengah 52,5 TSCF, Sumatera Selatan 183 TSCF; dan Bengkulu 3,6 TSCF, sisanya terletak di Jatibarang (Jawa Barat) 0,8 TSCF dan Sulawesi 2 TSCF.

Sedangkan berdasar data Departemen ESDM, potensi cadangan CBM yang berada di Indonesia mencapai 453,3 trillion cubic feet (TCF) yang berada di Sumatera Selatan dengan cadangan sebesar 183 TCF, Barito dengan cadangan 101,6 TCF, Kutai sebesar 80,4 TCF, Sumatera bagian tengah sebesar 52,5 TCF, Tarakan Utara sebesar 17,5 TCF, Berau sebesar 8,4 TCF, Ombilin sebesar 0,5 TCF, Pasir/Asem sebesar 3,0 TCF, Jatibarang sebesar 0,8 TCF, Sulawesi bagian barat daya sebesar 2 TCF, Bengkulu sebesar 3,6 TCF.


Prospek Ekonomi

Pada saat ini Indonesia belum pernah memproduksi CBM, sehingga belum bisa dipastikan berapa biaya produksinya. Sementara itu, CBM telah banyak dikembangkan, umumnya digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Beberapa negara telah memanfaatkan CBM seperti Amerika, Rusia, China dan Australia.

Dibandingkan gas alam, CBM memiliki periode produksi lebih lambat. Umumnya produksi terbesar atau puncak produksi terjadi pada periode tahun produksi ke 2 hingga ke 7. Sedang lama periode produksi pada kisaran 10 hingga 20 tahun. Lebih pendek dibandingkan dengan gas alam yang bisa mencapai 30 hingga 40 tahun.

Pengembangan energi alternatif ini membutuhkan insentif, seperti pola bagi hasil yang atraktif. Tujuannya, agar banyak investor yang berminat mengembangkan salah satu energi alternatif pengganti gas bumi ini. Ini adalah proyek baru dan diharapkan kontrak term-nya sangat atraktif sehingga dapat mencapai keekonomian pengembangan CBM.

Bentuk insentif yang diinginkan adalah bagi hasil yang lebih baik dari bagi hasil minyak dan gas. Paling tidak, bagi hasil CBM sama dengan bagi hasil minyak di daerah pedalaman atau frontier. Di daerah pedalaman, bagi hasilnya selama ini 65 persen untuk pemerintah, sedangkan 45 persen bagian kontraktor. Padahal bagi hasil biasanya, 85 persen bagian pemerintah, sedangkan kontraktor hanya 15 persen.

Permintaan bagi hasil tinggi kepada investor dikarenakan kegiatan ekplorasi CBM memiliki resiko tinggi. Apalagi pada tahun awal produksi yang dihasilkan hanya air, yang secara bertahap baru menghasilkan CBM. Juga sumur yang dibutuhkan untuk memproduksi CBM lebih banyak.

Perhitungannya, biaya eksplorasi satu sumur CBM sekitar US$ 400 ribu, lebih rendah dari minyak atau gas yang rata-rata US$ 1 juta. Namun karena jumlah sumurnya lebih banyak, sehingga total investasinya tetap tinggi.

Soal insentif, memang salah satunya bisa melalui bagi hasil. Yang lainnya bisa berupa kredit investasi CBM seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Di sana, semula dunia usaha enggan memproduksi CBM. Namun, setelah pemerintah memberikan kredit pengembang CBM, dunia usaha jadi berminat. Saat ini pemanfaatan CBM mencapai 12 persen dari total energi Amerika Serikat.

Hal lainnya, sebaiknya pemerintah membuat regulasi yang mengatur soal CBM. Sejak April sedang dirancang peraturan mengenai aturan kontrak dan fiskal pemanfaatan CBM. Kalau 2010 CBM sudah dimanfaatkan, dari sekarang sudah dimulai. Sebab memproduki CBM harus dilakukan proses dewatering selama 3-4 tahun pertama.

Status industri CBM saat ini sudah ada 3 kontrak yang ditandatangani, sedangkan 53 perusahaan tengah dalam proses menuju penandatanganan kontrak. Tiga kontrak yang sudah ditandatangani adalah Blok Sekayu, Blok Bentian Besar, dan Blok Indragiri Hulu. Sedangkan dua blok CBM yang akan ditandatangani 13 November nanti adalah Blok Barito I dan Blok Barito II.

Selain itu masih ada tiga blok yang juga akan ditandatangani, yakni Blok Ogan, Blok Kutai, dan Blok Sangatta. Total komitmen investasi delapan blok CBM tersebut mencapai 37,35 juta dolar AS.

Sementara itu status blok CBM yang masih dalam status on going sebanyak 8 perusahaan yang kini tengah dalam proses joint evaluation dan satu perusahaan lain tengah melakukan melakukan joint study, sedangkan surat aplikasi yang diterima oleh pemerintah berasal dari 39 perusahaan. Besarnya minat investasi menunjukkan bisnis CBM memang prospektif.

Usaha CBM diatur UU No. 21 Tahun 2001 Tentang Migas, Permen No. 40 tahun 2006 Tentang Penetapan dan Penawaran wilayah Kerja Migas (Permen ini disempurnakan Permen No. 35 Tahun 2008), dan Permen No. 33 Tahun 2006 Tentan Pengusahaan Gas Metana Batubara (disempurnakan dengan Permen No. 36 Tahun 2008).


Prospek Teknologi

Besarnya perkiraan cadangan CBM telah mendorong beberapa pihak terkait untuk mengembangkannya sebagai bahan bakar alternatif, melalui pemboran sumur pertama, yang dilakukan pada tahun 2005, pada kedalaman 600 meter di Lapangan Rambutan, Pendopo, Sumatera Selatan.

Pengeboran itu merupakan kelanjutan kerjasama Balitbang ESDM yang diwakili oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas (Lemigas) dengan Medco Eksplorasi dan Produksi Indonesia (MEPI). Berikutnya, tahun 2006 dilakukan pemboran 3 sumur dan pada tahun 2007 direncanakan pemboran sebanyak 5 sumur untuk mengetahui cadangan pasti CBM di Lapangan Rambutan.

Keseriusan pemerintah dalam pengembangan CBM ini terlihat dari usahanya mendorong PGN untuk bekerjasama dengan Sojitz Corporation dalam pengembangan CBM di areal pertambangan batubara Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Dengan kerjasama komersialisasi antara PGN dengan Sojitz, diharapkan PGN dapat memenuhi kebutuhan gas domestik dengan CBM di Sumatera Selatan yang dialirkan melalui pipa South Sumatra-West Java (SSWJ).

Penyediaan listrik yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan cara diversifikasi energi. Provinsi Kalsel sebagai salah satu lumbung energi nasional memiliki peran penting dalam usaha diversifikasi energy. Diversifikasi energi menitik-beratkan pada usaha mencari alternatif sumber daya energi selain minyak dan gas.

Saat ini, pasokan listrik di wilayah Kalsel dan Kalteng berasal dari batubara (dengan dua unit PLTU), tenaga air (3 unit PLTA), dan minyak bumi dan gas (29 unit PLTD/gas). Dari berbagai unit pembangkit ini, masih terjadi defisit listrik terutama saat beban puncak antara 20 hingga 70 Mega Watt. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah mengambil kebijakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di mulut tambang dengan pertimbangan ketersediaan sumber daya batubara yang cukup melimpah di wilayah Kalimantan. Namun demikian, karena batubara bukanlah termasuk dalam kategori clean energy maka pembangunan CBM di masa mendatang menjadi sangat strategis dalam penyediaan energi karena CBM termasuk clean energy dan potensinya cukup besar.

Penggunaan CBM untuk pembangkit listrik atau coalbed methane-fueled power plant akan menghasilkan ‘clean electrity’ atau ‘green electric city’ (energi listrik yang bersih dan ramah lingkungan).

Dikatakan, pemanfaatan CBM memang terutama sebagai pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Namun, negara-negara tertentu seperti Cina, telah melangkah lebih jauh dalam pemanfaatan CBM. Misalnya, sebagai pengganti bahan bakar minyak bagi kendaraan bermotor.

Di Jincheng, Cina, penggunaan CBM untuk kendaraan bermotor menunjukkan lebih irit 50 persen dibanding bensin. Selain itu, CBM lebih ramah lingkungan karena menghasilkan sedikit emisi karbondioksida, tidak menghasilkan timbal, tidak mengandung oksida sulfur dan 40 persen lebih rendah kandungan oksida nitrogen.

Peningkatan kebutuhan energi di masa mendatang, seperti minyak bumi, gas, dan batubara, akan terus terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi baik di tingkat regional, nasional, dan dunia.

Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan minyak bumi sebagai sumber energi utama dalam memenuhi kebutuhan energi nasionalnya karena dua hal. Pertama, beban impor minyak bumi akan terus memberatkan APBN karena Indonesia telah menjadi negara net-importer minyak bumi. Kedua, rasio cadangan produksi minyak bumi saat ini menunjukkan cadangannya hanya cukup untuk 18 tahun.

Menyadari kenyataan tersebut, kebijakan pembangunan energi nasional diarahkan untuk diversifikasi energi dengan beralih dari minyak bumi ke gas bumi dan batubara yang memiliki rasio cadangan produksi masing-masing hingga 60 dan 240 tahun.

Kesimpulan

Jika menilik besarnya sumber daya batubara Indonesia, sesungguhnya sangat logis jika batubara dijadikan sebagai sumber energi utama nasional di masa mendatang. Namun demikian dengan semakin ketatnya regulasi yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan utamanya terkait dengan isu pemanasan global, maka batubara di masa mendatang menjadi kurang kompetitif dari aspek lingkungan dibanding energi lain yang termasuk kategori clean energy, seperti gas bumi.

Dengan demikian, karena cadangan gas minyak bumi tidak bisa digunakan untuk jangka panjang, maka perlu dicari alternatif energi lain yang termasuk kategori clean energy namun potensinya cukup melimpah. Jawabannya adalah Coal bed Methane atau CBM.

Daftar Pustaka

-Dari berbagai sumber

Advertisements

PENERAPAN ERGONOMI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA DAN PRODUKTIVITAS

April 24, 2009

PENERAPAN ERGONOMI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA DAN PRODUKTIVITAS

oleh : Teuku Lukman Nur Hakim

Tugas Mata Kuliah Konservasi Energi

Jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya, sehingga peralatan sudah menjadi kebutuhan pokok pada berbagai lapangan pekerjaan. Artinya peralatan dan teknologi merupakan penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu disisi lain akan terjadi dampak negatifnya, bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin timbul. Hal ini tidak akan terjadi jika dapat diantisipasi pelbagai risiko yang mempengaruhi kehidupan para pekerja. Perbagai risiko tersebut adalah kemungkinan terjadinya Penyakit Akibat Kerja. Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dan Kecelakaan Akibat Kerja yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomi.

DASAR PEMIKIRAN

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, Ergon yang berarti kerja dan Nomos yang berarti aturan/hukum. Jadi ergonomi secara singkat juga dapat diartikan aturan/hukum dalam bekerja. Secara umum ergonomi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang kesesuaian pekerjaan, alat kerja dan atau tempat/lingkungan kerja dengan pekerjanya. Semboyan yang digunakan adalah “Sesuaikan pekerjaan dengan pekerjanya dan sesuaikan pekerja dengan pekerjaannya” (Fitting the Task to the Person and Fitting The Person To The Task). Kohar Sulistiadi dan Sri Lisa Susanti (2003) menyatakan bahawa fokus ilmu ergonomi adalah manusia itu sendiri dalam arti dengan kaca mata ergonomi, sistem kerja yang terdiri atas mesin, peralatan, lingkungan dan bahan harus disesuaikan dengan sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia tetapi bukan manusia yang harus menyesuaikan dengan mesin, alat dan lingkungan dan bahan. Ilmu ergonomi mempelajari beberapa hal yang meliputi:

1.Lingkungan kerja meliputi kebersihan, tata letak, suhu, pencahayaan, sirkulasi udara , desain peralatan dan lainnya. 2. Persyaratan fisik dan psikologis (mental) pekerja untuk melakukan sebuah pekerjaan: pendidikan,postur badan, pengalaman kerja, umur dan lainnya

3.Bahan-bahan/peralatan kerja yang berisiko menimbulkan kecelakaan kerja: pisau, palu, barang pecah belah, zat kimia dan lainnya

4. Interaksi antara pekerja dengan peralatan kerja: kenyamanan kerja, kesehatan dan keselamatan kerja, kesesuaian ukuran alat kerja dengan pekerja, standar operasional prosedur dan lainny.

Sasaran dari ilmu ergonomi adalah meningkatkan prestasi kerja yang tinggi dalam kondisi aman, sehat, yaman dan tenteram. Aplikasi ilmu ergonomi digunakan untuk perancangan produk, meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja serta meningkatkan produktivitas kerja. Dengan mempelajari tentang ergonomi maka kita dapat mengurangi resiko penyakit, meminimalkan biaya kesehatan, nyaman saat bekerja dan meningkatkan produktivitas dan kinerja serta memperoleh banyak keuntungan. Oleh karena itu penerapan prinsip ergonomi di tempat kerja diharapkan dapat menghasilkan beberapa manfaat sebagai berikut:

1. Mengerti tentang pengaruh dari suatu jenis pekerjaan pada diri pekerja dan kinerja pekerja

2. Memprediksi potensi pengaruh pekerjaan pada tubuh pekerja

3. Mengevaluasi kesesuaian tempat kerja, peralatan kerja dengan pekerja saat bekerja

4. Meningkatkan produktivitas dan upaya untuk menciptakan kesesuaian antara kemampuan pekerja dan persyaratan kerja.

5. Membangun pengetahuan dasar guna mendorong pekerja untuk meningkatkan produktivitas.

6. Mencegah dan mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat kerja

7. Meningkatkan faktor keselamatan kerja

8. Meningkatkan keuntungan, pendapatan, kesehatan dan kesejahteraan untuk individu dan institusi. (www.wsib.on.ca)

Dengan melakukan penilaian ergonomi di tempat kerja dapat diperoleh 3 keuntungan yaitu: Mengurangi potensi timbulnya kecelakaan kerja Mengurangi potensi gangguan kesehatan pada pekerja Meningkatkan produktivitas dan penampilan kerja Peran ergonomi sangat besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.

RESIKO KARENA KESALAHAN ERGONOMI

Sering dijumpai pada sebuah industri terjadi kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tersebut disebabkan oleh faktor dari pekerja sendiri atau dari pihak menajemen perusahaan. Kecelakaan yang disebabkan oleh pihak pekerja sendiri, karena pekerja tidak hati-hati atau mereka tidak mengindahkan peraturan kerja yang telah dibuat oleh pihak manajemen. Sedangkan faktor penyebab yang ditimbulkan dari pihak manajemen, biasanya tidak adanya alat-alat keselamatan kerja atau bahkan cara kerja yang dibuat oleh pihak manajemen masih belum mempertimbangkan segi ergonominya. Untuk menghindari resiko tersebut, pertama-tama yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi resiko yang bisa terjadi akibat cara kerja yang salah. Setelah jenis pekerjaan tersebut diidentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah menghilangkan cara kerja yang bisa mengakibatkan cidera.

PROSES IMPLENTASI ERGONOMI

Penerapan ergonomi di indonesia terus terang masih tertinggal jauh,dibandingkan di luar negeri. Ada beberapa prinsip dasar dalam melakukan program ergonomi yaitu :

1.Sebagai upaya proaktif untuk pencegahan terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan.

2.Pelaksanaannya didasarkan pada hasil ilmu pengetahuan dan hasil penelitian yang terbaik

3.Bekerjasama dengan pekerja dan departemen terkait

4.Fleksibel dan hindari satu ukuran untuk semua

5.Program yang dilaksanakan harus terjangkau dan sesuai kekuatan sumberdaya yang dimiliki

6. Program yang dilaksanakan harus jelas, singkat dan sederhana. (OSHA, 2004)

dan berikut 3 Langkah Awal Untuk Membangun Program Ergonomi di Tempat Kerja:

1.Membangun komitmen dari manajemen ( ini sangat diperlukan dalam setiap penerapan program, karena sistem yang baik harus ditunjang oleh dukungan dari top management).

2.Mengadakan pelatihan ergonomi untuk mendorong adanya partisipasi dari seluruh karyawan.( memeberikan pengetahuan kepada pekerja akan pentingnya penerapan ergonomi demi meningkatkan produktivitas di tempat kerja). 3.Membentuk working group yang bertanggung jawab untuk penerapan program ini ( team P2K3/ Health and Safety Executive).

Perancangan Program Ergonomi Dapat Dilakukan Dengan 2 Pendekatan : 1.pendekatan Reaktif Yaitu perancangan program dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang sudah ada agar lebih ergonomis, sehat dan aman. 2.Pendekatan Pro Aktif yaitu perancangan program dilakukan untuk membuat kondisi lingkungan kerja yang baru agar lebih ergonomis, sehat dan aman.

PEMBAHASAN

Penerapan Ergonomi akan dapat berjalan dengan baik apabila semua berpartisipasi aktif dari karyawan pada semua level di tempat kerjanya untuk meningkatkan kondisi lingkungan kerjanya. (Norman dan Wells, 1998). Sukapto (2008) menyatakan partisispatori ergonomi memiliki 4 elemen pokok yang saling berinteraksi yang terdiri dari karyawan, pengelola perusahaan, pengetahuan dan metode ergonomi dan konsep disain pekerjaan. Pentingnya melibatkan karyawan pada semua level untuk mencapai kesuksesan dalam intervensi ergonomi adalah 1.Karyawan adalah orang yang paling tahu terhadap pekerjaannya 2.Karyawan akan tahu solusi ergonomi yang paling tepat untuk dirinya agar semakin nyaman dalam bekerja 3.Menjadikan karyawan terlibat dalam proses perubahan 4.Untuk membangun budaya ergonomi yang aman, sehat dan nyaman.

KESIMPULAN

Menyadari pentingnya penerapan ergonomi bagi semua orang di manapun berada maupun bekerja, serta adanya persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap perusahaan di era globalisasi ini maka mau tidak mau upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya aspek-aspek ergonomi bagi kemajuan perusahaan menjadi prioritas dan komitmen semua pihak baik pemerintah maupun swasta dari tingkat pimpinan sampai ke seluruh karyawan dalam manajemen perusahaan. Dengan hal tersebut tingkat kesehatan dan keselamatan kerja akan lebih baik karena sakit akan menurun, biaya pengobatan dan perawatan akan menurun, kerugian akibat kecelakaankan berkurang, tenaga kerja akan mampu bekerja dengan produktivitas yang lebih tinggi, keuntungan akan meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan karyawan maupun pemberi kerja akan meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

1.Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Industri Jilid 1 untuk SMK oleh Bambang Suhardi —- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

2.I Dewa Putu Sutjana, “Hambatan dalam penerapan K3 dan ergonomic di perusahaan”, Bali, Peneletian Program Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

3.ref: wells dkk, 2003. Participative Ergonomic Blueprint, http://www.iwh.on.ca

4.Fitrihana, Noor, 2008, “Evaluasi dan Analisi Resiko Ergonomi”.

5.Fitrihana, Noor, 2008, “Partisipatori Ergonomi”.

6.Fitrihana, Noor, 2008, “Tentang Ergonomi”.


Perusahaan Jasa Fisika Bangunan?

January 26, 2009

Selain saya tertarik dengan konsentrasi mata kuliah instrumentasi dan kendali, saya juga tertarik dengan konsentrasi fisika bangunan. Menurut saya konsentrasi fisika bangunan ke depannya akan sangat penting bagi perkembangan bangunan yang SADAR ENERGI. Ilmu tersebut tidak lepas dan erat kaitannya dengan Teknik Fisika,Arsitektur dan Teknik Sipil.

Pernah terpikir dan berangan – angan untuk membuat perusahaan jasa fisika bangunan yang menangani permasalahan sebagai berikut (our businness core) :

1.Audit energi suatu bangunan (ilmu ini didapat dari mata kuliah Konservasi energi dan Manajemen energi)

2.Perhitungan tingkat kenyamanan Thermal suatu ruangan/bangunan (Mata kuliah Analisis Thermal)

3.Perhitungan beban penyejukan yang dibutuhkan dari suatu runagan/bangunan (Analisis Thermal)

4.Perhitungan OTTV menurut SNI (Standar Nasional Indonesia)

5.Perhitungan Kuat penerangan yang dibutuhkan suatu ruangan,pemilihan lampu dan penempatannya agar lebih effisien dan hemat energi (Radiasi Visual)

6.Perhitungan suatu ruangan dari segi akustik (Akustika)

Namun sayangnya di indonesia  hanya baru beberapa bangunan yang memiliki perhitungan yang spesifik dari hal-hal di atas,berbeda sekali dengan negara maju yang telah memperhitungkan suatu bangunan dari segi fisika bangunan agar pemakaian energinya lebih hemat dan effisien.

Seandainya suatu hari mendatang telah ada peraturan yang mewajibkan tiap bangunan untuk dihitung dari segi energi dan fisika bangunan, maka hal ini akan turut mengurangi beban listrik dan menambah lapangan pekerjaan baru buat ahli-ahli di bidang tersebut, karena setahu saya ahli energi dan fisika bangunan banyak dicari di luar negeri dibandingkan di dalam negeri.Semoga dengan pemikiran tersebut Para pengembang perumahan dan bangunan bisa menciptkan suatu bangunan yang lebih SADAR ENERGI.

Mungkinkah Indonesia dapat melakukannya?kita tunggu saja..

karena semua itu berawal dari mimpi..

The Power of Dreams and The Impossible Is Nothing..

Mari bersama-sama membangun Indonesia lebih baik lagi..= )


PT Surya Jaya…

December 18, 2008

akhirnya setelah berjuang dan bersusah payah untuk membuat sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan dan mempromosikannya di depan dosen-dosen penguji..

dengan senang hati tugas itu selesai,,dan solar tracker yang kami buat cukup effisien untuk mendapatkan energi matahari..

kunjungi web perusahaan kami di sini


Teknologi Nuklir dan Fenomena Sosial di baliknya.

December 17, 2008

Perkembangan teknologi nuklir baik yang berupa senjata maupun pembangunan PLTN masih menjadi polemik dari berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia.Ada yang Pro maupun Kontra,hal ini tidak terlepas dari dasar pendidikan dan pengetahuan mereka tentang teknologi nuklir itu sendiri.

Senjata nuklir dapat menimbulkan penyakit akibat radiasi, semisal kanker dan kebutaan. Tanah yang dijatuhi bom nuklir akan terkontaminasi oleh bahan nuklir. Tentunya itu bukan hal yang bagus. Tanah itu tidak akan bisa dibuat usaha pertanian atau perkebunan dan semacamnya. Tapi efek langsung dari senjata nuklir juga sangat berbahaya. contoh, bom Hiroshima (little boy) sudah berkekuatan 16.000 ton TNT. Bom Nagasaki (fat man) berkekuatan 21.000 ton TNT. Tapi anda salah kalau mengatakan itu adalah bom terkuat. Karena bom nuklir hidrogen pertama buatan Amerika memiliki kekuatan 1000x bom Hiroshima. Dan Tsarbomb, bom hidrogen terbesar dari Rusia dengan berat (hanya) 27 ton, dapat menimbulkan kerusakan 3700x bom Hiroshima.

Di lain pihak,Teknologi nuklir juga memiliki banyak manfaat antara lain sebagai sumber energi baru di masa depan,di bidang kesehatan,di bidang pertanian,di bidang peternakan,dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Atas dasar dari hal itu lah sebagai solusinya hendaknya pemerintah dan badan-badan yang terkait agar mensosialisasikan kepada khalayak ramai tentang peranan teknologi nuklir dewasa ini dan meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah sudah mampu dan memiliki SDM untuk pembangunan PLTN khususnya.

Dan mengenai permasalahan tentang perkembangan senjata nuklir telah diatur dan diawasi oleh PBB,IAEA,dan lembaga-lembaga terkait.Saat ini di dunia hanya terdapat 5 negara yang memiliki senjata nuklir yaitu Rusia, Prancis, Inggris, Amerika Serikat dan China.Solusi yang lainnya yaitu pembuatan perjanjian tentang daerah-daerah bebas nuklir.